13/10/17

Gagal karena Sesumbar: Sebuah Pengalaman




Ada banyak faktor penyebab tujuan yang ingin dicapai mengalami kegagalan, di antaranya malas, kurang kerja keras, tujuannya gak realistis, dan lain-lain. Tapi, pernah dengar atau baca gak ada orang yang gagal karena dia membicarakan atau mengumbar tujuannya ke banyak orang? Kalau belum izinkan aku untuk berbagi pengalamanku tentang itu. 😊

Tahun 2015 yang lalu, aku dinyatakan lulus SMA dan berencana melanjutkan ke perguruan tinggi. Orang-orang yang tahu aku sudah lulus SMA pasti bertanya, “Setelah ini mau kerja atau kuliah?”, “Mau melanjutkan kuliah di mana?”, “Kapan mau nikah?”. Setiap ditodong pertanyaan-pertanyaan semacam itu aku pasti jawab ingin kuliah di universitas A, B, atau C dengan yakin, jelas, dan bangga seolah-olah sudah pasti diterima di kampus negeri impianku itu. Jawabanku adalah bentuk keoptimisan dan bentuk meminta doa dari orang-orang, jadi aku berharap banget orang-orang yang bertemu denganku akan mengajukan pertanyaan (agar doa yang aku dapat banyak). Tapi ternyata, aku ‘dipeluk mesra’ oleh kegagalan. Sampai seleksi masuk perguruan tinggi negeri terakhir yang aku ikuti tahun 2015 tidak ada yang berhasil aku tembus. Aku malu. Aku sudah mengumbar apa yang menjadi tujuanku ke banyak orang, tapi nyatanya GAGAL. 


Mungkin kamu mengira kalau kegagalanku itu karena faktor lain. Mungkin kamu benar, tapi menurutku yang mengalami sendiri tidak seperti itu. Pada tahun 2016, aku berjuang lagi untuk mendapat perguruan tinggi negeri impian. Aku berencana mengikuti banyak seleksi masuk perguruan tinggi negeri yang diselenggarakan. Tapi, baru mengikuti satu seleksi saja, yaitu Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN), aku dinyatakan BERHASIL alias lolos. Jadi, aku batal mengikuti seleksi lain. Di tengah-tengah perjuanganku mendapatkan perguruan tinggi impian, ada hal yang tidak aku lakukan yang aku lakukan di perjuangan pada tahun 2015 lalu. Tidak lain dan tidak bukan adalah mengumbar tujuanku. Orang-orang dengan pertanyaan-pertanyaan itu masih ada, tapi setiap orang bertanya, “jadi, mau mendaftar kuliah di mana?”, jawabanku berbeda dari tahun sebelumnya, “di mana saja saya mendaftar, doakan saja saya lolos”. Lihat perbedaannya? Aku tidak menyebut secara spesifik perguruan tinggi yang aku tuju.


Gak cuma itu, jauh sebelumnya ketika aku masih di bangku sekolah dasar pada bulan ramadhan, keluargaku mendapat giliran membuat ta’jil untuk berbuka puasa di masjid kampung. Mataku melihat dengan sadar dan sangat jelas waktu itu ada kerupuk dibungkus plastik kecil-kecil, setiap plastik berisi empat sampai lima kerupuk. Tapi, ketika makanannya dibagikan ternyata kerupuknya gak ada. Padahal, seingatku waktu itu makanan buka puasanya adalah makanan yang umumnya dan enaknya dimakan bersamaan dengan kerupuk. Dan padahal, aku sudah bilang ke teman-temanku kalau nanti bakal ada kerupuknya. Jadi, aku merasa malu dan bersalah sudah nge-PHP-in mereka. Dasar kerupuk!

Dari dua pengalamanku di atas, aku berpendapat bahwa mengumbar-ngumbar rencana jangka panjang atau pendek, tujuan, atau cita-cita adalah salah satu faktor penyebab kegagalan.
Itu menurutku ya.  AKU GAK MEMAKSA KAMU UNTUK MENYETUJUI ATAU MEMPERCAYAI PENDAPATKU LOH, KARENA PENDAPAT ATAU KEPERCAYAAN MASING-MASING ORANG DIPENGARUHI OLEH PENGALAMAN DAN MASA LALU YANG DIALAMINYA.

Tapi, kita harus mempunyai pendapat yang sama bahwa kesuksesan bisa diraih kalau kita bekerja keras. Iya, kan?

Good luck! 💙

12 komentar on "Gagal karena Sesumbar: Sebuah Pengalaman"
  1. Hmmm...jadi sesumbar itu gak boleh ya. Bikin yg denger kesel terus malah didoain gak lolos. Hiks. Pelajaran deh...

    BalasHapus
  2. Kalo menurutku, mengumbarnya gak masalah. Asalkan tidak dalam bentuk atau porsi yang berlebihan. CUkup sampaikan apa yang menjadi impian besar kita dengan embel-embel "Semoga".

    Pasalnya, gagal bukan soal sudah berapa banyak kita mencoba. Tapi, sudah seberapa banyak kita belajar dari kesalahan sebelumnya.

    Gagal itukan kata motivator cuman proses. Jadi, kalau kamu kuat dengan proses, suksesmu tidak sejauh mata memandang.

    Btw, komentarmu di blog Pange : https://tulisanwortel.com/membuat-blog-terkenal-agar-blog-banyak-pengunjung/ sudah dibalas.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyap, segala sesuatu yg berlebihan memang bisa menjadi masalah.

      Okay. Terima kasih :)

      Hapus
    2. Setuju sama pangeran wortel.

      Tapi aku juga bukan tipe yang banyak sesumbar, soalnya malu kalo ternyata nggak kesampaian. Jadi kalo ditanya apapun, minta doanya aja.

      "Kapan nikah?"
      "Kalo nggak sabtu, minggu."
      "Kapan tuh?"
      "Minta doanya aja dikasih waktu yang tepat."

      the end.

      Hapus
    3. Iya malu banget kalau udah bilang-bilang tapi ternyata gak kesampaian :')

      Hapus
  3. mungkin kalau menggunakan kata "mengumbar" agak gimana gitu ya. beberapa pengalaman teman yang memang muluk-muluk menyampaikan rencana mereka, justru gagal. tapi yang diam-diam, justru berhasil. ada? banyak. apalagi kalau udah menyangkut pendidikan. maunya sekolah di A, udah cerita sana-sini, jadinya justru di B. pedih sih, tapi apa mau dikata. namanya juga takdir, manusia hanya bisa berencana.

    contoh kecil aja, rencana liburan bareng temen. udah disusun plan, digembar-gembor bakal berangkat hari H, nyatanya gagal.

    tapi sekali lagi, ada hikmah di balik gagal. kegagalan mahal harganya. karena tanpa mengalami kegagalan, orang akan sulit menjadi dewasa.

    optimis boleh, menyemogakan oke banget, tapi sekarang ada baiknya dibatasi, minta doa bisa jadi alternatif lain agar kita tidak terbawa suasana untuk sesumbar.

    semoga sukses selalu untuk amy ya :)

    BalasHapus
  4. Hmm... sebenarnya pilihan, ya. Tetapi sebaiknya memang tak perlu sesumbar lebih dahulu. Biarlah keberhasilan rencana kita menjadi sesuatu yang "nyaring". Sekalipun gagal, setidaknya kita tak akan terlalu sakit, terpukul, atau merasa bersalah karena sudah sesumbar. Hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya. Sebaiknya memang tidak usah terlalu digembar-gemborkan dulu :)

      Hapus
  5. Hmmm....kalau gue malah kayaknya kebalikan nih wkwkwk. Daridulu gue paling gak suka kasih tau orang2 apa yang sedang gue kerjakan, apa tujuan, dan bla blabla. Bahkan sampai menang suatu kompetisi, gak kasih tau teman sekelas. Karena gakmau dibilang sombong. Eh tapi mereka malah marah karena merasa gak dianggap. Wah wah....memang kalau sudah sama manusia itu gak bisa diprediksi dg tepat apa yg sebenernya mrk pikirkan. Huehehe.

    Trus juga, hal kecil seperti, kalau mau pulang ke rumah, gak mau bilang ke teman2 kosan kalau mau pulang. Pikir gue sih, ya ngapain? Apa benefit mereka tau gue pulang? Wkwkwkwk.

    Tapi abis itu dinasehati, yaaaa bilanglah...biar dapet doa, doa semoga selamat sampai tujuan.

    Hmm...ya gue bisa relate sih knp harus 'kasih tau'. Tapi jujur sampai skrg masih ogah2an dan mikirrrr banget kalau mau kasih tau org xD wkwkwkw.

    Ada positif negatifnya sih. Apapun iu, pokoknya ga over. Selalu ambil pelajaran dari kegagalan, dan meningkatkan level kalau sudah sukses muehehe.

    Salam dari Malang :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benefit mereka tau kamu pulang, ya biar mereka gak ngira kamu ilang ke mana Mbak 😂

      Salam kembali :)

      Hapus