20/09/17

Bicaralah, semua akan baik-baik saja.



Aku adalah seseorang yang bukan siapa-siapa. Tapi, tidak bolehkah orang yang bukan siapa-siapa ini bercerita? Sebab, aku yakin setiap orang, siapapun itu, punya cerita yang patut untuk diceritakan, begitu juga denganku. Dan aku yakin, ada orang yang bersedia membaca atau mendengar cerita dari seseorang.

Setiap orang pasti punya kelebihan dan kekurangan yang tampak maupun tidak. Kelebihan dan kekurangan dapat mendatangkan keberuntungan ataupun ketidakberuntungan. Sayangnya, kekuranganlah yang lebih banyak mendatangkan ketidakberuntungan. Setidaknya itu yang pernah aku alami. Karena aku adalah seseorang yang memiliki kekurangan yang bisa diketahui langsung oleh orang-orang yang melihat atau bertemu denganku.

Karena kekuranganku, ketika duduk dibangku sekolah dasar aku mengalami hal yang tidak menyenangkan, bullying (secara verbal). Hampir setiap hari pada jam istirahat aku mendapat ejekan dari seseorang. Dia mengejekku di depan banyak orang. Malu dan sakit rasanya. Tapi, aku yang memiliki kepribadian introvert tidak bisa melakukan apa-apa dan hanya diam ketika orang itu mengejekku. Teman yang melihatku diejek pun tidak membantu membuatku setidaknya merasa baik-baik saja, hanya menyaksikan. Aku memendam rasa malu dan sakit sendirian, tidak menceritakan apa yang aku alami di sekolah kepada siapapun termasuk ibu, bapak, saudara, dan teman-temanku dirumah. Semua akan baik-baik saja, pikirku.

Saat duduk dibangku sekolah menengah pertama, aku merasa ada yang aneh pada diriku. Aku mulai menarik diri dari dunia luar dan rasanya tidak ingin melakukan interaksi dengan orang-orang. Kalaupun ada orang-orang disekelilingku dan membuatku mau tidak mau harus berinteraksi dengan mereka, aku merasa tidak nyaman. Akhirnya, aku hanya keluar rumah jika sekolah dan jika ada acara yang berhubungan dengan sekolah, atau keluar rumah jika ada keperluan yang sangat mendesak, itupun dengan diselimuti ketakutan. Hal itu terjadi sampai aku lulus dari sekolah menengah atas. Selama itu, aku merasa berbeda dengan orang lain, aku merasa tidak seperti orang pada umumnya, dan aku merasa ada masalah pada diriku.

Setelah lulus dari sekolah, tidak, selama masih sekolah pun aku berusaha mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi padaku. Aku mencari-cari di internet dan akhirnya menemukan sesuatu, tapi aku belum yakin. Untuk meyakinkan atau mengetahui lebih pasti apa yang terjadi padaku, aku pergi ke rumah sakit dan menemui psikiater. Hal itu baru aku lakukan ketika duduk dibangku kuliah. Setelah beberapa kali melakukan pertemuan dengan pskiater yang menanganiku, akhirnya diketahui kalau memang ada masalah pada diriku. Aku menderita depresi. Ya, depresi. Salah satu penyakit mental yang tidak boleh disepelekan dan harus diobati sama halnya dengan penyakit fisik. Diketahui juga aku menderita penyakit itu karena trauma yang aku miliki. Trauma akan apa yang pernah aku alami di masa lalu yang sudah aku ceritakan pada paragraf ke-tiga.

Setelah itu aku sadar tindakanku ketika diejek waktu itu adalah tidak tepat, seharusnya aku berbicara dengan orang yang mengejekku dan membela diriku. Dan seharusnya aku menceritakan apa yang aku alami kepada ibu, bapak, saudara atau temanku. Jadi, aku tidak harus memendam rasa malu dan sedih sendirian. Dan setidaknya aku tidak akan memikul beban pikiran seberat yang selama ini aku pikul. Tapi, mau bagaimana lagi, masa lalu tidak bisa diubah dan tidak bisa dikunjungi lagi. Tapi, di masa lalu ada hikmah dan pelajaran yang bisa diambil untuk kehidupan sekarang :)

Teruntuk kalian, jika merasa diperlakukan secara tidak adil (mengalami bullying, persekusi, dan kejahatan lainnya) jangan takut untuk berbicara atau menceritakan apa yang dialami kepada siapapun yang bisa dipercayai dan dapat membantu menyelesaikan masalah itu. Selain kepada orang-orang terdekat, ada salah satu lembaga mandiri yang bertanggung jawab untuk menangani pemberian perlindungan dan bantuan kepada saksi dan/atau korban[1], ialah LPSK (Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban), lembaga itu akan membantu dan memberi rasa aman[2]. Jadi jangan takut, karena LPSK akan bekerja sesuai tugas dan kewenangan yang ditentukan oleh peraturan perundang-undangan yang berlaku, berkewajiban menyiapkan, menentukan, dan memberikan informasi yang bersangkutan dengan pelaksanaan tugas, kewenangan, maupun tanggung jawabnya kepada publik[3].


Diam tak selalu emas. Bicaralah, semua akan baik-baik saja.











Sumber :
[1] https://www.lpsk.go.id/statis/info_publik/tentang

[2] https://id.wikipedia.org/wiki/Lembaga_Perlindungan_Saksi_dan_Korban

[3] https://www.lpsk.go.id/statis/info_publik/tentang
10 komentar on "Bicaralah, semua akan baik-baik saja."
  1. Waktu SD saya juga mengalami bullying, dan itu diprakarsai oleh guru saya. jadi guru saya yg mulai pembully-an itu. T.T gegara itu, saya sampe pernah gamau ke sekolah. tidak hanya di sekolah, di tempat ngaji juga guru ngajinya ngebully, apa karena saya bodoh? nggak, niali saya selalu tinggi, saya juga lancar mengaji, tapi saya miskin dan orangtua saya punya banyak hutang, itu modal utama org dapat pembullyan. jadinya hanya bisa diam. ngebales sesekali, walo tahu akhirnya akan kalah.

    karena udah beberapa kali berbicara, bercerita pada banyak orang, tapi tak dipercaya dan malah makin dihina.

    Makanya hingga sekarang saya juga masih trauma untuk bercerita, dan menimbulkan banyak masalah lagi karena tidka mau bercerita. tapi gimana, sampe skrg belum nemu org yg bisa diceritakan semua keluh kesah. Bahkan di blog pun saya nggak lagi curhat, kalo sedih kesal hanya bisa mendem, kadang ditulis untuk diri sendiri.

    ini aku komen apaan sih. maaf ya numpang ngetk gajelas. pokoknya, meski ada penanggulangannya, alangkah baiknya jika pembullyan itu gak pernah terjadi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalo memang gak ada orang-orang terdekat yang bisa dipercaya untuk cerita, bisa tuh gabung komunitas-komunitas anti-bullying :)

      Untuk mengurangi adanya kasus bullying harus ada peran dari semua pihak tanpa kecuali. Dari pemerintah, bahkan sampai anak-anak.

      Hapus
  2. Hmm ini tulisan bagus untuk referensi ke teman2ku yang pernah dibully..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Syukurlah kalau tulisan in bermanfaat. Semoga teman-temanmu bisa bangkit dari pengalaman bullying-nya ya..

      Hapus
  3. tulisan ini harus dinaca murid dan teman guru saya di sekolah :(

    terima kasih, amy!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga bisa menjadi sebuah pelajaran agar tidak ada perundungan di sekolah tempat mbak Mayang mengajar ya :)

      Hapus
  4. :)

    SEMANGAT!
    SENYUM!

    Senyum sih. Hehehe.

    Halo, assalamualaikum, kenalin, nama gue Zahrah :D sekarang lagi domisili di Malang.

    Orang yang bertemu dengan gue, pada awalnya pasti akan memberi penilaian 'anggun'. Kemudian semua itu berubah setelah gue minum yakult hahahaha. Nggak sih.

    Kebanyakan akan menyebut gue ekstrovert karena ramah, antusias, dan aktif. Padahal padahal....gue men judge diri gue introvert. Bahkan pernah ikut tes kepribadian gitu, hasilnya introvert. Dan gue bangga dengan hasil itu! Karena gue mikir being introvert is cool, awesome, and mysterious huehehehe.

    Eh tapi setelah ikut2 lagi. Gue setengah2 sih. Ex and in xD and I'm proud! Lol.

    Dibalik sifat2 positif, seperti semua manusia di dunia ini, gue pun menyimpan banyak kegagalan, kesedihan, luka, kekurangan, dan hati yang berdarah lah.

    Cara mengatasinya...............gak tahu pasti sih, tapi berusaha untuk tersenyum, physically. Meski lagi sendirian, atau sambil nangis. It works.

    Hmmmm gini sih Amy, ya gue tahu banget kita gak bisa disamakan. Tapi depresi sometimes dibuat2 oleh pikiran kita sendiri yang over takut. Terus tanpa kita sadari, kita sendiri yang memelihara low self esteem itu.

    Untuk masalah bullying, they don't even give you money for life~ kamu nggak menggantungkan hidup ke mereka :D who are they? Hanya remahan cheesecake hehehe.

    Mana senyumnya Amy? :)))))))))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Banyak orang yang berlebihan bilang kalau mereka sedang depresi, padahal yang mereka rasakan hanya perasaan sedih atau takut biasa yang umum dirasakan oleh banyak orang di keadaan-keadaan tertentu.


      *senyum imut*

      Hapus
  5. aku tidak tahu kepribadianku apa, apakah introvert atau extrovert. aku juga tidak tahu, depresi itu seperti apa. pun aku juga tidak tahu apakah aku sedang depresi atau tidak. aku terkadang ingin mengeluh, tapi malu dengan orang-orang sekitar yang terlihat lebih banyak memiliki masalah, lebih sibuk, lebih lelah namun masih berusaha untuk bekerja keras. sedangkan aku,malah tidak tahu apa saja yang sudah aku kerjakan di 20 tahun umurku ini. bagaimanapun, terima kasih sudah mengizinkan aku menulis komentar sepanjang ini. semangat amy. u do ur best:)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mari kita cari tahu, google mungkin akan banyak membantu 🙂
      Jangan sungkan untuk menceritakan apa yang mengganggu pikiran maupun aktivitasmu ya 😊

      Hapus